PADANG, Warta Padang – Delapan tahun bukan waktu yang singkat dalam perjalanan pembinaan olahraga. Ada atlet yang tumbuh dari usia remaja menuju puncak prestasi, ada yang berganti kelompok umur, bahkan tidak sedikit yang mungkin telah melewati masa terbaiknya tanpa pernah merasakan atmosfer Pekan Olahraga Provinsi (Porprov).
Setelah penantian panjang sejak terakhir dilaksanakan pada 2018, Sumatera Barat akhirnya kembali menggelar pesta olahraga terbesar tingkat provinsi melalui Porprov XVI Sumbar 2026 yang berlangsung pada 2–14 Oktober 2026.
Ajang yang resmi ditutup di Stadion Utama Sumatera Barat, Kabupaten Padang Pariaman, pada Rabu (14/10/2026) itu menjadi penanda hidupnya kembali kompetisi olahraga antarkabupaten dan kota di Ranah Minang.
Namun, di balik kemeriahan pertandingan dan pembagian medali, terdapat tantangan yang jauh lebih besar.
Mampukah kebangkitan Porprov menjadi titik awal perbaikan prestasi Sumatera Barat dalam menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028 di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT)?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan mengingat Sumatera Barat menempati peringkat ke-24 pada PON XXI Aceh–Sumatera Utara 2024, dengan raihan lima medali emas, 14 perak, dan 30 perunggu.
Dengan target menembus 10 besar nasional pada PON 2028, Sumatera Barat menghadapi pekerjaan besar yang membutuhkan pembinaan berkelanjutan, pendanaan, serta kesiapan atlet yang terukur.
Mengakhiri Delapan Tahun Penantian
Porprov terakhir sebelum penyelenggaraan tahun ini dilaksanakan pada 2018 di Kabupaten Padang Pariaman.
Dalam siklus ideal, kompetisi olahraga tingkat provinsi semestinya menjadi agenda rutin untuk menjaga kesinambungan pembinaan atlet.
Namun, berbagai persoalan membuat penyelenggaraan Porprov Sumbar terhenti cukup lama.
Wakil Ketua Umum II KONI Sumbar, Septri, dalam keterangannya kepada Sumbarkita pada Juni 2026 menjelaskan bahwa pandemi COVID-19 menjadi salah satu faktor utama terhentinya penyelenggaraan Porprov.
Selain pandemi, kendala pendanaan pemerintah daerah dan dinamika internal organisasi olahraga ikut memperpanjang masa vakum tersebut.
Akibatnya, kompetisi yang seharusnya menjadi tempat mengukur kemampuan atlet daerah tidak dapat berlangsung secara rutin.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan kesenjangan dalam sistem pembinaan.
Atlet muda kehilangan kesempatan mendapatkan pengalaman bertanding dalam kompetisi multiajang, sementara pelatih dan pengurus cabang olahraga memiliki keterbatasan dalam mengevaluasi kemampuan atlet pada tingkat provinsi.
Karena itu, kembalinya Porprov pada Oktober 2026 memiliki makna lebih besar daripada sekadar terlaksananya sebuah agenda olahraga.
Porprov kembali menghadirkan ruang kompetisi yang sebelumnya lama dinantikan.
Melibatkan 8.794 Atlet dan 12 Daerah Tuan Rumah
Porprov XVI Sumbar 2026 mempertemukan atlet dari 19 kabupaten dan kota dengan mempertandingkan 53 cabang olahraga.
Berdasarkan laporan panitia pada pembukaan kegiatan, sebanyak 8.794 atlet terdaftar mengikuti pertandingan yang tersebar dalam 1.049 nomor.
Berbeda dari penyelenggaraan yang memusatkan kegiatan pada satu daerah, Porprov tahun ini menggunakan konsep tuan rumah bersama.
Sebanyak 12 kabupaten dan kota terlibat sebagai penyelenggara, dengan pertandingan berlangsung di puluhan lokasi.
Konsep tersebut memungkinkan penggunaan sarana olahraga yang telah tersedia di berbagai daerah sekaligus membagi tanggung jawab penyelenggaraan.
Kabupaten Kepulauan Mentawai juga mendapat kesempatan menjadi bagian dari tuan rumah, menandai perluasan keterlibatan daerah dalam penyelenggaraan olahraga tingkat provinsi.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, membuka secara resmi Porprov XVI di halaman Istana Gubernuran pada Jumat (2/10/2026).
Sementara itu, penutupan berlangsung pada 14 Oktober di Stadion Utama Sumatera Barat, Kabupaten Padang Pariaman.
Penyelenggaraan secara bersama ini dapat menjadi pengalaman penting bagi daerah dalam mengelola pertandingan, meningkatkan kesiapan fasilitas olahraga, serta membangun koordinasi antarpemerintah daerah dan organisasi olahraga.
Kota Padang Juara Umum, Kota Solok Tampil Mengejutkan
Dari sisi perolehan medali, Kota Padang kembali mempertahankan dominasinya sebagai juara umum Porprov Sumbar.
Berdasarkan publikasi resmi Pemerintah Kota Padang, kontingen ibu kota provinsi tersebut meraih total 609 medali, terdiri atas 261 emas, 181 perak, dan 167 perunggu.
Capaian tersebut memperpanjang tradisi Kota Padang sebagai pemegang gelar juara umum Porprov Sumbar.
Di posisi kedua, Kota Solok mencatatkan pencapaian penting dengan mengumpulkan 350 medali, terdiri atas 139 emas, 113 perak, dan 98 perunggu.
Sementara Kabupaten Padang Pariaman menempati posisi ketiga dengan 77 emas, 83 perak, dan 101 perunggu.
Kota Bukittinggi juga menunjukkan kemampuan bersaing dengan menempati peringkat keempat dan membukukan 223 medali.
Hasil tersebut memperlihatkan adanya potensi atlet berprestasi dari berbagai daerah di Sumatera Barat.
Meski demikian, jumlah medali Porprov tidak dapat secara langsung disamakan dengan peluang medali pada tingkat nasional.
Standar kompetisi, kekuatan lawan, nomor yang dipertandingkan, serta persyaratan kualifikasi PON memiliki karakteristik berbeda.
Karena itu, hasil Porprov seharusnya menjadi bahan pemetaan untuk menentukan atlet dan cabang olahraga yang berpeluang dikembangkan menuju kompetisi lebih tinggi.
PON 2024 Menjadi Cermin, Sumbar Targetkan 10 Besar pada 2028
Tantangan terbesar olahraga Sumatera Barat setelah Porprov adalah meningkatkan daya saing pada tingkat nasional.
Pada PON XXI Aceh–Sumatera Utara 2024, Sumbar hanya mampu mengumpulkan lima emas, 14 perak, dan 30 perunggu, sehingga finis di peringkat ke-24 klasemen akhir.
Catatan tersebut menjadi salah satu tolok ukur untuk mengevaluasi kemampuan olahraga daerah.
Kini, KONI Sumbar di bawah kepemimpinan Hamdanus memasang target yang jauh lebih tinggi.
Melalui program pembinaan menuju PON XXII 2028, Sumatera Barat menargetkan masuk 10 besar nasional dengan sasaran perolehan 19 medali emas.
Target itu diumumkan dalam rangkaian penyusunan program Pelatihan Provinsi (Pelatprov) dan evaluasi atlet pada Maret 2026.
Ambisi tersebut tentu tidak ringan.
Sebagai gambaran, pada PON 2024 peringkat ke-10 ditempati Lampung dengan 22 emas, 16 perak, dan 30 perunggu.
Artinya, target 19 emas tidak otomatis menjamin Sumbar masuk 10 besar, karena posisi akhir nantinya juga ditentukan oleh perolehan medali seluruh kontingen.
Namun, penetapan target menjadi bagian penting untuk memberikan arah pembinaan yang lebih terukur.
Sumbar membutuhkan peningkatan bukan hanya pada jumlah atlet yang dikirim, melainkan juga kualitas dan peluang prestasi masing-masing cabang olahraga.
Porprov Harus Menjadi Gerbang Seleksi Atlet PON
Ketua Umum KONI Sumbar, Hamdanus, sejak awal menempatkan Porprov sebagai salah satu fondasi pembinaan atlet menuju PON.
Dalam pandangannya, kompetisi tingkat provinsi harus menghasilkan data mengenai kemampuan atlet dan peluang prestasi, bukan berhenti pada pembagian medali.
Setelah Porprov XVI resmi berakhir, Hamdanus kembali menegaskan pentingnya menjadikan hasil kompetisi sebagai dasar pembinaan menuju ajang nasional.
Melalui tulisan yang dipublikasikan pada 15 Oktober 2026, ia mengingatkan bahwa Porprov bukan akhir perjalanan atlet, melainkan tahapan menuju PON 2028.
Langkah berikutnya adalah mempersiapkan atlet menghadapi Pekan Olahraga Wilayah (Porwil), kejuaraan nasional, serta babak kualifikasi PON atau Pra-PON.
Pada tahapan inilah para atlet terbaik dari Porprov perlu menjalani seleksi lanjutan berdasarkan kemampuan teknis, kondisi fisik, perkembangan prestasi, dan kesiapan menghadapi persaingan nasional.
Atlet yang berhasil meraih medali emas di tingkat provinsi tetap membutuhkan pembinaan intensif untuk menghadapi lawan dengan kualitas lebih tinggi.
Sebaliknya, atlet yang belum meraih medali juga tidak seharusnya kehilangan kesempatan apabila hasil evaluasi menunjukkan potensi berkembang.
Pembinaan berkelanjutan menjadi faktor penting agar prestasi tidak hanya muncul ketika sebuah kejuaraan berlangsung.
KONI Sumbar Mulai Terapkan Pembinaan Berbasis Data
Salah satu langkah yang telah dilakukan KONI Sumbar adalah menjalankan program Pelatprov dengan pendekatan evaluasi terukur.
Pada Maret 2026, KONI Sumbar mengumpulkan puluhan pelatih dari berbagai cabang olahraga untuk menyusun program pembinaan menuju PON 2028.
Program tersebut mencakup pemeriksaan fisik, kesehatan, dan psikologi atlet sebagai bahan evaluasi awal.
Sebanyak 35 cabang olahraga telah ditetapkan dalam program Pelatprov setelah melalui proses verifikasi.
Pada Agustus 2026, KONI Sumbar kembali melaksanakan tes fisik tahap kedua yang diikuti 161 atlet dari kelompok andalan, prioritas, dan potensial.
Hasil pengujian tersebut dibandingkan dengan kondisi atlet pada tahap awal untuk mengetahui perkembangan setelah menjalani program latihan.
Pendekatan ini menjadi penting karena peningkatan kemampuan atlet perlu diukur melalui indikator yang jelas.
Dalam pembinaan olahraga modern, prestasi tidak cukup ditentukan oleh hasil pertandingan terakhir.
Data kondisi fisik, kemampuan teknis, catatan pertandingan, serta risiko cedera perlu menjadi pertimbangan dalam menyusun program latihan.
Dengan demikian, hasil Porprov 2026 seharusnya dapat melengkapi basis data pembinaan untuk mempersiapkan kontingen Sumatera Barat menuju PON 2028.
Tantangan Anggaran dan Konsistensi Pembinaan
Keberhasilan melaksanakan Porprov setelah delapan tahun vakum tidak berarti seluruh persoalan olahraga Sumatera Barat telah selesai.
Salah satu tantangan yang kembali muncul dalam proses persiapan Porprov XVI adalah keterbatasan anggaran.
Pada September 2026, sejumlah pengurus KONI kabupaten dan kota bahkan mengajukan usulan pergeseran jadwal pertandingan karena pencairan dana hibah melalui APBD Perubahan belum sepenuhnya siap.
Persoalan tersebut sempat dibahas bersama Komisi V DPRD Sumatera Barat.
Meskipun Porprov akhirnya dapat diselenggarakan sesuai jadwal, dinamika itu menunjukkan perlunya perencanaan anggaran olahraga yang lebih berkesinambungan.
Pembinaan atlet menuju PON membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit, mulai dari kebutuhan latihan, peralatan, pelatih, pemeriksaan kesehatan, pemusatan latihan, hingga mengikuti kejuaraan di luar daerah.
Sistem pendanaan yang hanya mengandalkan kebutuhan menjelang kompetisi berisiko menghambat proses pembinaan.
Karena itu, pemerintah daerah bersama KONI dan pengurus cabang olahraga perlu memastikan bahwa hasil Porprov diikuti oleh program yang memiliki target dan dukungan anggaran yang jelas.
Kebangkitan kompetisi harus diikuti dengan keberlanjutan pembinaan.
Dua Tahun Menentukan Masa Depan Olahraga Sumbar
PON XXII 2028 direncanakan berlangsung di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, dengan DKI Jakarta disiapkan sebagai daerah penopang untuk cabang olahraga tertentu sesuai kebutuhan fasilitas.
Bagi Sumatera Barat, rentang waktu menuju 2028 menjadi kesempatan untuk memperbaiki sejumlah aspek mendasar.
Hasil Porprov XVI dapat digunakan untuk memetakan kekuatan cabang olahraga, memperluas pembinaan atlet muda, meningkatkan kualitas pelatih, dan menentukan prioritas menghadapi Pra-PON.
Selain itu, kolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga pendidikan olahraga, pemerintah daerah, serta pihak swasta dapat diperkuat untuk mendukung pembinaan yang lebih profesional.
Perhatian juga perlu diberikan kepada atlet dari daerah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses fasilitas dan kompetisi.
Sebab, bibit atlet potensial tidak hanya lahir dari kota besar, tetapi juga dapat berkembang di berbagai kabupaten dan wilayah kepulauan.
Dengan pembinaan yang merata, Porprov dapat menjadi sarana menemukan potensi olahraga daerah yang sebelumnya belum memperoleh perhatian optimal.
Jangan Sampai Porprov Kembali Vakum
Selain mempersiapkan PON 2028, Sumatera Barat juga telah merencanakan penyelenggaraan Porprov XVII pada tahun yang sama.
Rencana ini menjadi bagian dari upaya mengembalikan siklus kompetisi olahraga tingkat provinsi secara rutin.
Namun, keberlanjutan tersebut harus disiapkan sejak awal agar persoalan yang menyebabkan kekosongan selama delapan tahun tidak kembali terulang.
Kepastian kalender kompetisi, penentuan tuan rumah, dukungan anggaran, dan kesiapan infrastruktur perlu menjadi perhatian bersama.
Pemerintah daerah serta organisasi olahraga juga perlu memastikan bahwa para atlet memiliki kesempatan bertanding secara berkala, bukan hanya ketika Porprov berlangsung.
Sebab, pembangunan prestasi tidak dapat bergantung pada satu kompetisi setiap beberapa tahun.
Diperlukan kejuaraan tingkat kabupaten dan kota, kompetisi antarklub, pembinaan usia dini, hingga turnamen cabang olahraga yang dilaksanakan secara konsisten.
Porprov seharusnya menjadi puncak dari proses pembinaan tersebut, bukan satu-satunya kesempatan atlet menunjukkan kemampuan.
Porprov Telah Kembali, Kini Saatnya Membuktikan Prestasi
Pelaksanaan Porprov XVI Sumbar 2026 patut menjadi momentum evaluasi sekaligus pembaruan arah pembinaan olahraga Ranah Minang.
Setelah delapan tahun tidak terselenggara, atlet dari 19 kabupaten dan kota akhirnya kembali mendapatkan panggung besar untuk bertanding dan menunjukkan kemampuan.
Kota Padang berhasil mempertahankan gelar juara umum. Kota Solok mencatatkan prestasi penting, sementara daerah-daerah lainnya menunjukkan potensi yang perlu terus dikembangkan.
Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai setelah seluruh pertandingan berakhir.
Target masuk 10 besar PON 2028 tidak cukup dicapai dengan semangat maupun kebanggaan terhadap medali Porprov.
Dibutuhkan kerja nyata melalui seleksi yang objektif, pembinaan berbasis data, kompetisi berkelanjutan, dukungan anggaran, dan evaluasi yang transparan.
Delapan tahun penantian telah berakhir. Kini, ukuran keberhasilan Porprov Sumbar 2026 bukan hanya seberapa meriah penyelenggaraannya, melainkan seberapa jauh atlet-atlet yang lahir dari kompetisi tersebut mampu membawa nama Sumatera Barat bersaing di panggung nasional.
Porprov telah kembali. Jalan menuju PON 2028 kini menjadi ujian berikutnya bagi kebangkitan olahraga Ranah Minang.

