Kamis, 5 November 2026 Dari Padang, Mengabarkan Dunia.
TERKINI
Nasional

Kabut Asap Karhutla Mengancam! 277 Ribu Kasus ISPA Tercatat, 62 Ribu Lebih Menimpa Balita

Karhutla melanda 7 provinsi dan memicu 277.075 kasus ISPA hingga 12 Oktober 2026. Sebanyak 62.400 kasus menimpa balita. Kemenkes kerahkan 2.106 nakes.

Kabut Asap Karhutla Mengancam! 277 Ribu Kasus ISPA Tercatat, 62 Ribu Lebih Menimpa Balita

JAKARTA, Warta Padang – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Bukan hanya merusak lingkungan dan menurunkan kualitas udara, kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat sebanyak 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif hingga 12 Oktober 2026 di wilayah terdampak karhutla.

Dari jumlah tersebut, 62.400 kasus terjadi pada anak usia 0–5 tahun. Angka ini memperlihatkan besarnya risiko kesehatan yang dihadapi kelompok usia paling rentan terhadap polusi udara.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati, mengungkapkan bahwa karhutla telah berdampak pada tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota di Indonesia.

Untuk menghadapi situasi tersebut, pemerintah telah mengerahkan 2.106 tenaga kesehatan guna memperkuat pelayanan medis, sistem rujukan, serta pemantauan penyakit di daerah terdampak.

"Berdasarkan data hingga 12 Oktober 2026, tercatat 277.075 kasus ISPA secara kumulatif, dengan 62.400 kasus di antaranya pada rentang usia 0–5 tahun," ujar Widyawati dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Kualitas Udara Memburuk, Sejumlah Daerah Masuk Kategori Berbahaya

Ancaman kabut asap semakin nyata ketika hasil pemantauan kualitas udara menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.

Berdasarkan data dari 37 stasiun pemantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), tercatat 13 daerah berada pada kategori berbahaya, 11 daerah dalam kategori sangat tidak sehat, dan 13 daerah lainnya masuk kategori tidak sehat.

Kondisi tersebut menjadi peringatan bagi masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, khususnya mereka yang harus beraktivitas di luar ruangan.

Partikel halus PM2.5 yang terkandung dalam asap kebakaran menjadi salah satu polutan paling berisiko. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel tersebut masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga paru-paru.

Paparan polusi udara dapat menyebabkan batuk, iritasi tenggorokan, gangguan pernapasan, hingga memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru kronis.

Risiko semakin tinggi bagi bayi, balita, lanjut usia, ibu hamil, dan masyarakat dengan penyakit penyerta.

Tujuh Provinsi Terdampak Karhutla

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan sebelumnya, tujuh provinsi yang menghadapi dampak karhutla meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah tersebut tidak hanya berdampak pada kawasan hutan dan lahan, tetapi juga memengaruhi kehidupan masyarakat.

Kabut asap berpotensi mengganggu kegiatan belajar mengajar, aktivitas ekonomi, mobilitas warga, hingga produktivitas pekerja yang sehari-hari menggantungkan penghasilan dari aktivitas luar ruangan.

Kondisi ini membuat penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan upaya pemadaman api. Perlindungan kesehatan masyarakat juga harus menjadi prioritas.

Kemenkes Kerahkan 2.106 Tenaga Kesehatan dan Tiga Juta Masker

Sebagai respons terhadap tingginya risiko kesehatan, Kementerian Kesehatan meningkatkan kesiapsiagaan pelayanan medis di daerah terdampak.

Sebanyak 2.106 tenaga kesehatan telah dimobilisasi untuk mendukung pemeriksaan, penanganan pasien, penguatan fasilitas pelayanan kesehatan, serta sistem rujukan.

Selain personel medis, pemerintah juga menyalurkan berbagai bantuan kesehatan berupa sekitar tiga juta masker, oksigen konsentrator, obat-obatan, dan alat pelindung diri (APD).

Distribusi bantuan tersebut diarahkan untuk membantu fasilitas kesehatan menghadapi kebutuhan pelayanan yang meningkat selama berlangsungnya bencana kabut asap.

Langkah ini penting mengingat gangguan pernapasan dapat membutuhkan penanganan lebih lanjut, terutama pada pasien dengan kondisi kesehatan yang sudah rentan.

Bukan Hanya Paru-Paru, Kabut Asap Juga Bisa Mengganggu Kesehatan Mental

Dampak karhutla ternyata tidak berhenti pada gangguan kesehatan fisik.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengingatkan bahwa paparan kabut asap berkepanjangan juga berpotensi memengaruhi kesehatan mental masyarakat.

Terbatasnya aktivitas luar rumah, terganggunya pekerjaan, berkurangnya interaksi sosial, hingga perubahan kegiatan sekolah dapat memunculkan stres dan kecemasan.

Anak-anak menjadi kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena perubahan rutinitas dapat memengaruhi kenyamanan emosional mereka.

Orang tua dianjurkan menjaga pola kegiatan sehari-hari, memperhatikan kualitas tidur, serta mengenali perubahan perilaku dan pola makan anak selama masa kabut asap.

Apabila muncul gangguan psikologis yang berlangsung terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, masyarakat disarankan mencari bantuan tenaga kesehatan.

Masyarakat Diminta Kurangi Aktivitas Luar Ruangan

Menghadapi kondisi udara yang memburuk, Kemenkes mengimbau masyarakat membatasi kegiatan di luar ruangan, terutama ketika tingkat pencemaran udara berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.

Bagi warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah, penggunaan respirator N95 atau KN95 dengan pemasangan yang rapat lebih disarankan untuk membantu mengurangi paparan partikel halus.

Masker medis dapat menjadi alternatif jika respirator tidak tersedia, meskipun kemampuannya menyaring partikel halus tidak setara dengan respirator yang digunakan secara benar.

Sementara untuk bayi dan balita, langkah perlindungan utama adalah menghindarkan mereka dari paparan asap, bukan mengandalkan pemakaian masker.

Masyarakat juga dianjurkan menutup akses masuknya asap dari luar saat kualitas udara memburuk dan menggunakan penyaring udara yang sesuai apabila memungkinkan.

Pemerintah daerah didorong menyiapkan ruang dengan udara lebih bersih yang dapat diakses kelompok rentan, termasuk anak-anak, ibu hamil, lansia, serta penderita penyakit pernapasan.

Penyediaan fasilitas tersebut membutuhkan koordinasi antara dinas kesehatan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan instansi terkait.

Ancaman Kabut Asap Perlu Diwaspadai Masyarakat Sumatera

Bencana karhutla di sejumlah provinsi Sumatera turut menjadi perhatian masyarakat di wilayah sekitarnya, termasuk Sumatera Barat.

Pergerakan asap dapat dipengaruhi kondisi angin dan cuaca, sehingga perkembangan kualitas udara perlu terus dipantau melalui informasi resmi dari instansi berwenang.

Meski demikian, kondisi udara di suatu daerah tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan kejadian kebakaran di provinsi lain. Diperlukan data pemantauan kualitas udara setempat untuk mengetahui tingkat paparan yang sebenarnya.

Masyarakat diimbau tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, atau kesulitan bernapas.

Dengan ratusan ribu kasus ISPA yang telah tercatat, bencana karhutla menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan memiliki konsekuensi besar terhadap kesehatan dan kehidupan manusia.

Penanganan kebakaran, pengendalian polusi udara, serta perlindungan kelompok rentan menjadi langkah penting untuk mencegah dampak kesehatan yang lebih luas.

Redaksi WARTA PADANG

Tim redaksi WARTA PADANG.

Cari berita